Dua minggu yang lalu, saya pergi nonton ke film Perempuan Berkalung Sorban, dengan mama, papa dan adik saya. Sedikit aneh ya? Dah segede gini, pergi nontonnya dengan orang tua. Waktu nonton Laskar Pelangi, saya juga pergi dengan orang tua saya. Senang aja bias pergi dengan mereka. Selain lebih aman karena pergi denga mahram, kan juga bias gratis, karena pasti yang bayaran Papa. Hwhehhehe…
Saya penasaran dengan film ini. Kemarin sempat menonton Behind the scene nya. Ini film pure gender atau seperti apa. Makanya saya harus melihat langsung. Setelah menonton film ini, pasti kita semua punya pandangan yang berbeda-beda. Termasuk saya. My big appreciate for Hanung and crews, yang telah membuat film ini, pastinya dengan tidak mudah. Namun saya sedikit menyayangkan mengapa filmnya jadi ga jelas gini.
Yang pasti ini film untuk orang dewasa, karena banyak adegan yang sangat amat tak patut ditonton oleh anak dibawah umur. Film ini berlatar belakang pesantren kental, yang bercerita tentang seorang anak perempuan yang bernama Annisa yang ingin diperlakukan sama dengan kakak-kakak laki-lakinya. Sama dalam hal mendapatkan pendidikan apapun. Tapi ayah dan kakaknya melarang Annisa untuk mendapatkan itu semua, karena alasan Annisa adalah seorang wanita dan ga pantes.
Ada banyak adegan dan dialog yang tidak nyaman buat saya. Karena saya takutnya, orang-orang yang menonton, menelan mentah-mentah apa yang disampaikan dalam film tersebut, tanpa berusaha mencari tahu, apa yang sebenarnya yang menjadi fakta.
Pertama, saya merasa tidak nyaman waktu dialog antara annisa dengan syekhnya, sewaktu masih belajar di pesantren ayahnya. Pada saat itu, sang guru mengatakan bahwa sebagai muslimah, kita harus menjadi istri yang sholehah. Seorang istri tidak boleh meminta talak cerai pada suaminya. Seorang istri tidak boleh menunda berjima’, bila sang suaminya meminta kapanpun. Bahkan ketika ia sedang memasak. Karena bila ia menundanya, maka laknat Allah akan dating padanya. Kemudian istri harus menunggu suaminya merasa puas dalam berjima’, baru boleh berhenti. Banyak hal yang disampaikan oleh gurunya. Namun Annisa, mencoba memutar fakta yang ada. Annisa bertanya pada gurunya, apa hukumnya bila sang istri telah berusaha mempertahankan perkawinannya, pada saat suaminya bersikeras untuk bercerai? Selain itu, apa hukumnya bila sang suami menolak berjima saat istri mengajaknya terlebih dulu. Dan apa hukumnya bila istri belum merasa puas, sementara sang suami sudah ingin berhenti. Dan sang guru hanya berkata, “itu istri yang kegatelan namanya.” Hanya itu, tanpa menjelaskan bagaimana sesungguhnya Islam memandang.
Mungkin ini terdengar hal yang tabu dan memang tak seharusnya wanita seperti itu. Tapi, Islam itu adil dan sungguh syamil (sempurna), sehingga mengatur segala sesuatunya hingga sedetail-detailnya, termasuk dalam hal hubungan suami istri. Dari buku yang saya baca, Islam menjunjung tinggi keadilan termasuk dalam hal berjima. Istri boleh meminta, karena itu haknya. Dan suami pun harus menunggu hingga sang istri terpuaskan, baru berhenti. Karena memang sudah sunatullah, wanita itu akan lebih lambat merasa titik puncak kepuasan dalam berhubungan dibandingkan laki-laki. Dan ini penting. Dan satu hal, dalam berhubungan pun harus dilandasi dengan kebaikan, bil makruf.
Hal lain yang cukup mengganjal saya adalah, pada saat Annisa membawa masuk secara diam-diam buku-buku dari luar, yang ia berikan pada santri yang ada di pesantren ayahnya. Saya tau, ini adalah film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama, dimana tak semua isi novel dapat disampaikan, dan memang dalam film pun tak semuanya harus diungkapkan secara verbal. Namun saya bingunng, sebenarnya buku apa yang dibawa Annisa hingga membuat anak-anak santri mampu menulis, tetapi dengan judul-judul tulisan yang menurut saya, memang tidak pantas untuk seorang santri. Saya memang lupa apa saja judul tulisan santri-santri tersebut, tetapi saya merasa bahwa tindakan para guru di pesantren tersebut yang menentang niat Annisa membawa buku-buku dari luar, adalah tepat. Niat Annisa sebenarnya baik, karena ingin membuka cakrawala para santri agar tak terhenti ilmunya pada kitab-kitab yang ada di pesantren saja, namun seharusnya ia tetap harus menyortir buku apa yang hendak dibawanya, bermanfaat atau berujung mudharatkah bila buku tersebut di baca.
Namun terlepas dari itu semua, saya menyukai tokoh Annisa yang benar-benar berusaha menentang tradisi di Pesantren tersebut, bahwa wanita tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Bahwa wanita pun punya hak yang sama untuk mendapatkan pelajaran apapun, termasuk belajar mengendarai kuda. Sekali lagi, ini adalah tradisi, bukan hokum Islam. Ayah Annisa benar, bahwa ia melarang Annisa untuk sekolah jauh-jauh karena tak ada mahram yang menemaninya. Ini yang harus kita garisbawahi, bahwa Islam tak pernah melarang siapapun untuk mencari ilmu, bahkan menuntut ilmu menjadi wajib bagi setiap muslim baik perempuan maupun laki-laki. Bahwa Islam, tak pernah mengekang wanita, namun justru memuliakannya dengan hukum-hukum syar’I yang ada. Banyangkan saja, Allah membuat surat cinta khusus untuk wanita dalam kitabnya yang suci, Al Quran, dalam surat An-Nisa. Saya menyukai perjuangan Annisa yang mencari keadilan untuk wanita yang teraniaya dalam rumah tangganya, akibat KDRT yang dilakukan oleh suaminya.
Apapun itu, semuanya kembali lagi pada pandangan kita masing-masing. Setiap orang boleh punya penilaiannya sendiri-sendiri terhadap film ini. Film ini memang menggambarkan realita yang terjadi di masyarakat kita, dan kita tak bisa pungkiri itu. Tetapi hendaknya, realita itu diikuti dengan fakta yang seharusnya atau sebuah pelurusan, bahwa sebenarnya beginilah Islam mengajarkan kita memperlakukan wanita, menyetarakan wanita dan menghormati kebebasan wanita yang tentu saja pasti ada batasnya. Wallahualam
Cheers…^_^