Dalam perjalanan pulang menuju kampung halamanku yang terakhir, I had so many experiences. Pengalaman-pengalaman yang aku temukan sepanjang penantianku sewaktu transit di Soekarno Hatta, hingga setibanya aku di kampong halaman tercinta. Dan semua itu membuatku menyimpulkan satu hal yang sepanjang hidupku mungkin lupa untuk ku syukuri yaitu betapa beruntungnya aku memiliki orang tuaku saat ini.
Teringat kembali pada memori-memori masa kecil yang masih terekam jelas diingatanku dan akan tetap kupegang sampai kapan pun. Aku bukanlah berasal dari keluarga yang kaya, tetapi bukan juga berasal dari keluarga yang kekurangan. Alhamdulillah semuanya selalu saja ada. Allah memberikan rezeki yang lebih dari cukup kepada keluargaku. Itulah mengapa dari kecil kami tak pernah bergaya hidup mewah, walaupun tak dipungkiri ayahku adalah seorang yang berselera tinggi. Beliau tak pernah membelikan barang-barang murahan untuk kami. Mulai dari baju hingga alat sekolah semuanya bermerk. Walaupun beliau tak pernah menjelaskan hal itu pada kami, agar tak mengajarkan kesombongan pada kami. Baru, setelah agak besar kami semua menyadarinya.
Kebanggaanku yang lain adalah orang tuaku yang mengajari kami untuk menjaga hubungan dengan lawan jenis secara hati-hati. Kami maklum. Kami semua adalah putri sehingga papa-mama hanya ingin melindungi kami. Dan hal lain yang sangat amat terekam jelas dalam ingatanku adalah papa akan sangat marah kalau kami menyanyikan lagu yang seharusnya tidak dinyanyikan oleh anak seusia kami pada saat itu. Ya, seperti lagu roman-roman picisan yang memang targetnya adalah orang dewasa. Beliau akan menegur bila kami menyanyikan lagu-lagu percintaan yang ga jelas. Alhasil, ketika masih kecil hanya lagu anak-anak yang kami pahami. Apakah aku menyesal? Oh tentu saja tidak.
Saat ini, aku merasa miris melihat anak-anak zaman sekarang. Ketika sesampainya aku di pekanbaru kemarin, aku langsung ditodong kekondangan akekahan anak sepupu. Di sana ada hiburan organ tunggal dan yang bernyanyi adalah anak-anak kecil yang kurasa baligh aja belum. Dan yang membuatku bersedih adalah lagu yang mereka nyanyikan! Oh God, bayangkan aja, mereka bernyanyi lagu Ingat Kamunya Maia, Ok!nya T2, hingga Jablainya Titi Kamal. Astagfirullah… mereka bernyanyi dengan sangat gembira dan begitu menikmati. Dan yang mungkin membuat mereka semakin bersemangat adalah dukungan orang tua dan saudara-saudara mereka yang terus menerus berteriak bangga terhadap penampilan mereka. Can you imagine that? Bayangkan! Mau jadi apa generasi ini ketika dari kecil sudah diajarkan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh anak seusia mereka? Membayangkannya saja aku ga berani. Apakah pendidikan orang tua saat ini sudah sangat parah hingga melupakan penanaman moral dari hal yang kecil? Entahlah apa begitu sulit mendidik anak di zaman yang serba teknologi ini.
Oke, mungkin mereka belum paham dengan apa yang mereka nyanyikan, tetapi mengapa hal itu dibiarkan saja? Mengapa mereka dibiarkan melakukan sesuatu yang tak mereka pahami? Apakah lagu anak-anak sudah tidak ada hingga mereka harus dicekoki dengan lagu orang dewasa? Mungkin jawabannya adalah iya. Seribu satu macam alasan bisa saja dibuat untuk defence our self, tetapi permasalahannya adalah apa jadinya putra-putri anda nanti?
Lagu tak hanya sekedar kata-kata indah yang bernada yang dilantunkan oleh lisan. Lebih dari itu, sebuah lagu harus mampu menjadi suatu yang bermanfaat bagi yang bernyanyi dan yang mendengarkannya. Bagaimana sebuah lagu menjadi sebuah deretan kata yang membuat hati anda tidak terbuai pada sesuatu yang tidak sepantasnya anda pikirkan. Itu yang hendaknya ditanamkan pada setiap orang termasuk pada putra dan putri anda. Dan itu yang mungkin hendak diajarkan oleh orang tuaku. Ya Allah…betapa beruntungnya aku.
Dan aku pun merasa semakin bertambah beruntung tak kala mengingat bagaimana nilai-nilai keagamaan telah tertanam kuat sewaktu aku masih kecil. Mulai dari papa yang getol banget menyuruh kami sholat dan mengaji. Mulai dari diikutkan dengan pesantren yang ada di dekat rumah, memanggil guru ngaji ke rumah, hingga pada akhirnya papa yang mengajari kami. Betapa menyenangkan bukan? Pokoknya setiap magrib harus ngaji! Itu yang menjadi kebiasaan bagi kami semua. Hingga kebiasan itu tetap kami lakukan sampai dewasa. Ya Robb…skali lagi, betapa beruntungnya aku…
Hal lainnya adalah betapa kemandirian telah tertanam pada kami. Sejak kelas 1 SMP, kami sudah hidup terpisah dari orang tua. Keinginan papa yang besar untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putri-putrinya membuat papa merelakan kami untuk bersekolah di kota yang berbeda. Pilihan berat memang buat kami semua tapi keinginan untuk menjadi lebih baik menjadikan segala kendala itu mampu kami lewati bersama. Yap, perlahan namun pasti, anak-anak papa-mama satu per satu di transfer ke Pekanbaru, yang berjarak 12 jam dari kota kecil kami Sibolga.
Awalnya, oh tentu saja berat. Setiap malam menangis minta disuapin mama, nelpon mama, dsb. Tapi ternyata, inilah hasilnya. Alhamdulillah, kami semua menjadi anak-anak yang tangguh yang ga terlalu dimanja dengan fasilitas, yang ga bergantung pada mobil antar jemput bila berangkat sekolah, yang bertemankan bus kota atau angkot untuk berjuang ke tempat kami menimba ilmu. Yah, benih yang di tanam semenjak kecil itu, kini tengah menuai hasilnya. Oh God…how lucky I’m…
Dulu, pernah hati keCil ini merasa iri melihat teman-teman masa kecil yang bila kita datang pada acara ulang tahun teman, selalu ditemani papa atau mamanya. Kami? Jangan harap! Bukannya papa-mama ga mau nemenin, tapi aku yakin, skali lagi mereka hanya ingin mengajarkan kami untuk mandiri, ga manja! Itu aja. Menyenangkan bukan?
Demokratis, itulah papa-mamaku. Mereka berdua tak pernah memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya. Beliau mengajarkan kami untuk memilih sendiri jalan hidup kami, tetapi tetap dengan bimbingan mereka. Buktinya dari kami bertiga tak ada satupun yang jurusan kuliahnya sama. Bahkan cenderung ga nyambung satu sama lain. Karena apa? Karena papa-mama hanya ingin kami menikmati apa yang kami inginkan dan bertanggung jawab atas segala pilihan itu.
Maka memilih kuliah di luar pulau Sumatra pun kami jalankan. Sekali lagi. Tentu saja untuk mencari tempat belajar yang lebih baik. Tak bisa dipungkiri, pulau Jawa memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan tempat menimba ilmu. Kelengkapan fasilitas dan dekatnya dengan pusat pemerintahan Indonesia, menjadikan pulau Jawa menjadi selalu selangkah lebih maju dari pulau lainnya. Dan jadilah, kakakku yang di Jogja, setahun kemudian aku yang menyusul berjuang di Semarang dan yang terakhir, adik bungsuku yang tak mau ketinggalan untuk mengikuti jejak kakak-kakaknya ke Jawa yaitu Semarang.
Aku jadi teringat, seorang sahabatku yang kebetulan seorang cowok, pernah berkata, “Kalo aku jadi bapakmu, ga akan aku ijinkan 3 anak cewekku sekolah di Jawa”. Aku hanya bisa tersenyum, karena akupun tak punya jawaban, mengapa kami bertiga bisa diizinkan merantau ke pulau sebrang semua. Sesampainya di Pekanbaru, aku pun bertanya pada papaku, mengapa kami bertiga diizinkan belajar jauh-jauh. Apa papa ga khawatir? Papa hanya menjawab, papakan percaya pada kalian. Papa udah menanamkan agama dari kalian sejak kecil, jadi itulah pegangan kalian. Sebuah jawaban yang sangat membuatku makin harus menjaga kuat semua kepercayaan itu. Subhanallah…aku sungguh beruntung.
Dari dulu, kami bukanlah keluarga romantis. Yang selalu mengucapakan, Ratna sayang mama-papa, atau papa sayang kalian. Tetapi hati kami selalu tau, bahwa kami sangat menyayangi satu sama lain. Kami juga bukan keluarga yang suka curhat satu sama lain. Kami lebih suka menyimpannya sendiri atau membaginya dengan teman dekat. Bagiku, itu ga masalah. Itu hanya masalah kenyamanan dalam berhubungan. Namun yang pasti kami adalah keluarga yang memiliki kesukaan untuk memberi surprise. Mulai dari papa, mama, mbak ayu, aku dan wiwin menyukai hal-hal yang berbau kejutan. Entahlah, kami hanya menyenangi ekspresi orang-orang yang kami sayangi, berbahagia dengan surprise kami.
Kalaulah ingin menceritakan bagaimana papa-mamaku mendidik kami, pasti ga akan pernah ada habisnya, karena memorikupun takkan mampu mengingatnya saat ini juga. Kalaulah ingin menceritakan betapa beruntungnya aku, pasti ga akan pernah usai, karena kenikmatan yang Allah berikan padaku takkan mampu terwakilkan dalam kata-kata karena begitu banyaknya. Namun yang pasti, aku sangat bangga pada orang tuaku. Tempatkan dirimu pada posisiku, tentu kamu pun akan merasakan nilai-nilai kebanggaan yang ada pada hatiku saat ini. Aku selalu ingin mengatakan bahwa aku sangat bangga pada kalian mama-papaku tercinta. Aku merasa Allah telah begitu sayang padaku karena telah menitipkan aku pada kalian. Mungkin banyak saudara-saudaraku diluar sana yang tak mampu merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang aku rasakan. Semoga aku mampu mengambil nilai-nilai positif yang kalian ajarkan padaku, dan ku terapkan pada anak-anakku nantinya. Amin.
Saudaraku, kalaulah saat ini kalian tengah emosi dengan kedua orang tua kalian, lakukan hal yang sama denganku saat ini. Buatlah daftar kebanggan kalian yang telah ditanamkan orang tua kalian semenjak kecil. Seburuk apapun pemikiran kalian terhadap orang tua kalian, buanglah itu semua. Karena selama beliau tidak menyekutukan Allah, mereka menjadi tanggung jawab kalian untuk menikmati hidayah yang ada di hati kalian saat ini. Dan itupun tengah kulakukan kepada keluargaku.
Hal yang paling membahagiakan seorang anak adalah apabila melihat orang yang dicintainya bisa merasakan kelezatan iman yang ada dihatinya sekarang bersama-sama. Sungguh, kalian akan sangat merugi ketika kalian udah menyerah sebelum berjuang, menganggap orang tua tak perlu didakwahi, karena keras ataupuk kolot. Justru, orang tua kalianlah yang seharusnya menjadi orang terdekat yang paling bisa merasakan dampak hidayah itu. Tak inginkah kalian menikmati surga bersama-sama dengan mereka?
Kalau aku….ingiiiiiiiin sekali….
Ya Robbi, mudahkanlah jalanku untuk membawa orang-orang yang kubanggakan ini merasakan segala kelezatan iman yang ada di hatiku saat ini. Amin….