(Merasa) Makin Cerdas dengan kemajuan Teknologi

Disela-sela bikin laporan…

Mestinya sih ngerjain laporan. Tapi berhubung moodku lagi ga beres, ya udah ngeblog aja dulu. Dont try this at home ya…:D

Udah 2 bulan ini punya akun twitter. Agak telat sih. Bukan agak lagi malah, tapi telat buangeeeetttt!! Dulu tuh udah punya akunnya namun ga tau cara makenya. Dan semenjak punya hp agak keren (red:Galaxy w),agak pameeerr..hehehe..jadi ngerasa sayang aja kalo ga dipake buat hal-hal yang bermanfaat. Dan akhirnya mulai belajar2 make twitter. Dan setelah saat itu saya baru merasa rugi kenapa ga sejak dulu manfaatin ni sosmed.

Twitter itu emang bedaaaa banget dari fb. Disini aq bisa nge-follow orang-orang hebat dengan pemikiran-pemikiran mereka yang hebat. Karena karakternya yang singkat membuat para penggunanya harus bisa memilah dan memilih postingan dalam kalimat yang singkat namun bisa membuat orang tergugah. Dengan akun twitter aq ngerasa kayak ngobrol langsung dengan orang-orang hebat ini. Dan yang pasti aq mesti jadi follower orang-orang yang emang bisa bikin aq jadi pribadi yang lebih baik.

Semenjak aq nge-follow Ust.Yusuf Mansyur,aq jadi cintaaaaa banget dengan sedekah. Semenjak aq nge-follow Endi Kurniawan mindset financial ku berubah menjadi investasi berbentuk LM. Semenjak aq nge-follow Ippho Sentosa, Hanya2Menit, Billy Boen n pengusaha-pengusaha lainnya, aq jadi terinspirasi untuk berbisnis,berbisnis dan berbisnis. Walaupun aq seorang PNS, aq ingin menggali sisi lain kemampuanku. Lagian kalau hanya mengandalkan gaji PNS, banyak impian-impianku yang akan sulit terwujud. Hehe..Semenjak aq nge-follow aa Gym n ustadz2 lainnya, dapat tausiyah beliau yang menyejukkan hati. Subhanallah…

Intinya, aq ngerasa semakin cerdas dengan adanya teknologi ini. Setiap menit seperti ditentor langsung. Menyenangkan rasanya memiliki wawasan yang lebih luas dengan adanya kemajuan teknologi. Ketika orang lain baru berpikir selangkah, dengan adanya teknologi ini aq ngerasa udah 10 langkah lebih maju dari mereka. hahaha…pede amit!

Yah itulah teknologi, bagai 2 sisi mata uang. Bila kita mampu menempatkan menjadi jalan untuk kebaikan, maka Insyaallah akan jadi kebaikan untuk yang lainnya. Begitu juga sebaliknya. Bila memnafaatkannya untuk hal-hal yang buruk, maka semakin buruklah penggunannya.

Hum, kira-kira bentuk teknologi apalagi yang akan ditemukan nantinya. Yah semoga bisa tetep menjadi wasilah kebaikan n memberi manfaat besar pagi penggunanya.

Semoga barakah Allah senantiasa tercurah pada para inspiratorku didunia maya..

Follow me @ratnazakiyah ;)

*kerja lagi yuuukkk….

In My 3rd Years Being a civil servant

dah lamaaaa banget ga nge-blog! mari taubatan nasuhaaa…

gimana pun menulis itu sama dengan menyanyi. sama-sama menghilangkan kegalauan n bisa jadi penyalur ekspresi jiwa yang mantrap!

oke baiklah..lagi pengen berbagi, ntah kebahagian entah kenorakan. Alhamdulillah, tepat 27 April 2012, aq udah 3 tahun menjadi seorang abdi negara aka PNS. hmm…bukan waktu yang singkat dan juga bukan waktu yang lama juga. Dan di umur ke-3 tahun aq menjadi PNS aq mendapat kado yang sangat indah n ga pernah aq bayangkan. Pada saat apel peringatan HUT Kotaku, aq dapat fasilitas duduk di tenda VIP. yah mengingat 3 tahun sebelumnya harus berpanas-panasan melawan matahari, berarti bisa duduk di tenda VIP adalah pencapaian yang lumayan. daripada lumanyun gitu…heheh

Tapi bukan itu inti dari kado istimewanya. Pada saat apel kemarin, aq mendapat penghargaan sebagai Tenaga Kesehatan Teladan kategori Penyuluh Kesehatan Masyarakat. Kategori ini ditahun-tahun sebelumnya tidak pernah ada. Dan aqlah yang mendapatkannya pertama kali. Ditanya bangga, ya banggalah. Masalahnya aq juga g pernah nyangka. Yah bayangkan saja, aq baru 3 tahun jadi PNS dan aq ngerasa belum ada yang bisa aq banggakan apalagi untuk diteladani oleh rekan-rekan kerja lainnya. Tapi aq yakin, inilah takdirnya. Allah menitipkan penghargaan ini kepadaku untuk bisa menjadi motivasi agar aq bisa bekerja lebih dan lebih baik lagi. Perjuanganku sih belum selesai sampai disini. Aq masih harus maju presentasi untuk menjadi wakil Prov Riau ditingkat Nasional. Semoga aq bisa berjuang dengan maksimal. aamiinn

Kalau ditanya apakah aq mencintai pekerjaanku, jawabannya adalah I DO LOVE MY JOB. Aq sangat menyenangi profesiku sebagai seorang penyuluh kesehatan. Karena meskipun banyak yang menganggap pekerjaan ku itu sepele banget, toh ketika mereka disuruh mengerjakannya, mereka juga berkata tidak bisa n tidak mau. Padahal menjadi seorang penyuluh kesehatan itu adalah sebuah pekerjaan yang penuh dengan tantangan karena membutuhkan kreatifitas yang tinggi. Dan itu yang selalu memancing adrenalinku untuk terus bertahan dalam profesi ini. Bayangkan saja, sebagai seorang penyuluh kita harus menemukan cara agar apa yang kita sampaikan bisa dipahami oleh audiens. Baik itu dari segi metode penyampaian maupun isi materi. Yah walopun aq juga belum expert2 banget, tapi justru disanalah tuntutannya, aq harus terus n terus belajar! Menjadi penyuluh itu menurutku pekerjaan mulia. Karena aq berbagi ilmu, yang insyaAllah semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Sebagaimana hadis Rasulullah, salah satu amalan yang ga akan terputus bila kita mati adalah ilmu yang bermanfaat,right??

Work with passion, itulah intinya. Kalau kita sudah mencintai apa yang kita kerjakan, tentu gairah dalam hidup kita akan selaras dengan apa yang kita kerjakan. Dan pada akhirnya akan menghasilkan kerja-kerja yang luar biasa. Maka dimanapun posisi anda saat ini, sebagai apapun anda saat ini, cintailah apa yang anda kerjakan. Agar waktu n tenaga yang anda habiskan disana memang bermanfaat, ga useless. Namun bila anda tidak mencintai apa yang anda kerjakan sekarang, mungkin anda bisa mulai berpikir untuk meninggalkannya atau mulai belajar perlahan mencintainya, Ya itu tadi, agar hidup anda bisa selaras dengan apa yang anda cintai, so anda pun bisa tampil maksimal dengannya.

3 tahun bukan waktu yang panjang untukku berkarya, namun juga bukan waktu singkat untukku membuang-buangnya begitu saja. Walaupun honestly, aq ga pengen selamanya jadi PNS, namun waktu yang akan aku lalui sebagai seorang PNS, semoga akan menjadi waktu yang berkah n aq pun diberi kemudahan n kekuatan untuk selalu belajar n belajar menghasilkan kerja-kerja yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

Walaupun hingga detik ini aq juga ga paham mengapa aq yang mendapatkan penghargaannya, namun aq akan berusaha memantaskan diri. Mereka saja percaya aq bisa, maka aq pun harus belajar meyakinkan diriku bahwa aq memang bisa.

Image

So.,..selamat berkarya

Catatan Akhir Tahun 2008-ku

2008
There so many things that happen in this year. Hal-hal menyenangkan dan meyedihkan benar-benar memenuhi hari-hariku sepanjang tahun ini. Sunnatullah memang. Hidup ini memang harus punya keseimbangan, agar berjalan teratur pula. Tak bisa salah satu hal melebihi hal lainnya. Ada senang, pastinya akan ada kesedihan.

Januari 2008
Diawal tahun ini aku memulai perjuangan skripsiku. Yang ada dalam benakku, aku tak punya alasan lagi untuk menunda kelulusanku. Harus lulus periode wisuda kali ini, yang jatuh di bulan April. Aku memang benar-benar memulainya kembali. Berkutat pada buku,artikel, internet,dan segala macam data yang berhubungan dengan skripsiku. Dan stu hal yang menjadi bagian penting dalam perjuangan skripsi ini, yaitu perjuangan untuk mengalahkan segala kepengecutanku untuk bertemu dengan dosen pembimbingku. Dan akhirnya aq pun maju bertemu beliau untuk pertama kalinya. Subhanallah…ternyata tak seperti dugaanku. Smuanya berjalan lancar. Bahkan aku tak pernah menyangka bahwa dengan sekali konsultasi,aku diizinkan untuk seminar proposal. Allahuakbar!

Februari 2008
Diawal bulan ini pun ku memulai perjuangan itu lagi. Aku kembali ke kampung halamanku, karena memang disanalah aku mencari data penunjang sklripsiku. Skali lagi, Allah mudahkan semuanya. Yah walaupun tidak selalu mudah semuanya, tapi dengan bantuan orang-orang yang ku rasa dikirimkan Allah untuk memuidahkan pencarian data ini, aku bisa menyelesaikan pengambiklan data hingga awal bulan Maret.

Maret 2008
Dibulan ini, kepasrahan, keikhlasan dan kesabaranku benar-benar diuji. Deadline ujian akhir yang semakin dekat namun skripsiku belum usai. Aku benar-benar pasrah dengan segalanya. Aku hanya mengharapkan keajaiban yang mungkin masih Allah percayakan untukku. Ketika ku bertemu dosen pembimbingku, beliau mengatakan bahwa aku tak bisa ikut wisuda periode ini. aku hopeless! Tapi memang segalanya kuserahkan pada Allah, Ia yang maha tau apa yang terbaik untukku. Hingga pada keesoka harinya aku mendapat kabar yang benar-benar membuatku tak mampu berkata apa-apa. Ternyata dosen pembimbingku mengizinkan aku untuk ikut ujian akhir dan itu artinya aku boleh ikut wisuda periode ini. Allahuakbar!!Aku benar-benar tak pernah menyangka keajaiban itu benar-benar datang padaku. Janji Allah itu pasti!ITu keyakinan teguh yang harus aku pegang. Inilah jawaban dari segala doaku sepanjang pengerjaan skripsi ini. “Ya Allah lembutkanlah hati orang-orang yang terlibat dalam skripsiku ini hingga mereka mudahkan segalanya.”

April 2008
Bulan yang bersejarah untukku. Karena dibulan ini aku resmi menjadi Ratna Zakiyah, SKM. Penambahan titel dibelakang namaku. Amanah baru untuk menjaga ilmu ini agar bermanfaat. Dan kado terindah diwisudaku ini adalah ayahku mewakili pidato ucapan terima kasih dari orang tua wisudawan. Selain itu, akupun didaulat untuk membacakan janji alumni diwisuda fakultasku. Hihihi…ga penting ya?(Penting banget buatku..!)

2 be continued yah..^_^
nyambung lagi…
Mei 2008
Benar-benar sebuah masa transisi. Transisi dari seorang mahasiswi menjadi seorang job seeker. Agak aneh awalnya. Karena praktis, aktivitas berkurang. Ditambah amanah organisasi pun sudah mulai tak banyak lagi. Namun alhamdulillah, meskipun begitu Allah menjagaku dengan amanah-amanah lainnya, yang datang tanpa pernah aku sangka. Hari-hariku banyak disibukkan dengan bulak-balik ke internet. selain untuk mencari lowongan pekerjaan, itu juga cara untuk mengurangi kebosananku. Diawal bulan Allah memberiku sebuah kejutan yang mengubah banyak jalan hidup dan diriku. Aku tak pernah menyangka Allah memberikanku amanh sebesar itu. Siapalah aku? Aku hanyalah seorang gadis yang baru mengecap manisnya tarbiyah, lezatnya hidayah, sekitar 5 tahun. Tapi Allah beri aku kepercayaan itu. Semoga ku mampu menjalaninya. Mamaku hendak berangkat umrah, aku menyusul bliau ke jakarta. Selama disana aku mengalami petualangan seru bersama teman-temanku. It was so fun! Mamaku brangkat Umrah, dan aku pun pulang ke Pekanbaru. Selain menjaga rumah, papa juga menyuruhku melengkapi persyaratan pencari kerja. Ya kartu kuninglah, skck, dan segala tetek bengeknya. Akhirnya…aku pun kembali ke kampung halamanku, dan mulai menikmati kesendirianku di sana.

Juni 2008
ntar aja y nyambungnya…dah mo magrib ^_^

Yang Terabaikan

Disuatu kesempatan, dalam sebuah acara tausiyah yang dihadiri oleh mayoritas saudari-saudari saya yang sangat saya kagumi kesholehannya, panitia membagi-bagikan snack untuk peserta dengan cara estafet. Snack tersebut dibagikan panitia dari depan ke belakang. Ketika salah seorang al ukh mengoper snack tersebut ke peserta yang ada di belakangnya, ia memberikan tanpa sedikitpun membalikkan badan ke belakang. Ia tetap serius memperhatikan pembicara. Saya mengelus dada!

Dalam kesempatan lainnya, disebuah acara yang juga dihadiri oleh mayoritas saudara-saudara saya, yang begitu saya kagumi karena keluasan ilmu agama mereka, saya menjadi panitia bersama salah seorang saudari saya. Peserta satu per satu datang. Saya dan rekan saya menyambut mereka. Peserta datang tanpa senyuman, dan panitia pun tak juga tersenyum. Saya kembali mengeluskan dada!

Apakah teman-teman mengerti mengapa saya mengeluskan dada? Hati saya miris! Miris sekali! kenapa? Kenapa dengan objek dakwah kita bisa selalu tersenyum manis? Karena memang itulah modal utama kita. Tapi mengapa, untuk saudari kita, yang sama lelahnya dengan kita berjuang dan bertahan di jalan dakwah ini, kita sulit untuk membagikan senyuman manis itu?

saya berkhusnudzon, mungkin pada kasus pertama, al ukh tersebut sangat memperhatikan pembicara hingga tak terlalu memperdulikan snack yang diberikannya pada saudari yang ada dibelakangnya. Tapi, apa begitu sulit untuk sekejap  membalikkan badan lalu memberikan snack tersebut dengan senyuman hangat kita? bukankah yang namanya akhlak tak mengenal waktu dan tempat? Bukankah akan lebih sopan dan menyenangkan bila kita memberikan dengan membalikkan badan kita? memang ini terdengar sepele, tapi ini penting buat saya.

ada Hal yang mungkin terabaikan. Saat ini, kita terlalu sibuk bagaimana menjaga objek-objek dakwah kita agar tetap bersama kita. Tapi terkadang, kita lupa untuk menjaga kehangatan kita bersama saudara-saudara kita.

Bukankah mereka masih berhak atas senyuman manis kita ketika bertemu? Bukankah merek juga masih berhak dengan pelukan hangat kita ketika bersua? Bukankah mereka masih berhak atas pertanyaan,”apakabar anti hari ini?”. Dan sejuta kemesraan-kemesraan ukhuwah yang dulu sangat kita rasakan pada awal-awal kita memasuki dakwah ini. Bahkan menurut saya, mereka jauh lebih membutuhkan itu saat ini.

Jalan dakwah ini terlalu berat untuk dilalui sendiri. dan pelukan, sapaan, sms, bahkan hanya senyuman dri saudara-saudara kita sedikit banyak bisa mengurangi kepenatan, kelelahan dan kesedihan yang ada dalam hati ini.

Dan satu hal yang jangan pula kita abaikan, Doa!Doakanlah saudara-saudaramu. Bayangkanlah wajah-wajah mereka dalam doa robithohmu. Itu Jauh lebih menguatkan dari apapun. Bukankah ketika kita mendoakan sebuah kebaikan untuk saudara kita, maka pada saat itu malaikat mendoakan hal yang sama untuk kita? Jadi, mengapa kita harus pelit dalam mendoakan saudara kita?

So,mulailah menghilangkn hal yang terabaikan itu. Mulailah untuk memenuhi kembali hak-hak saudara-saudara antum, yang dulu mungkin sempat terlupakan. Karena apa? Karena mereka adalah harta yang paling berharga yang yang mungkin tak antum sadari..

^_^

Pliz, Tolong Berhentilah Melanggar Traffic Light!

Sudah beberapa hari ini saya sering mengeluh dalam hati. Mengapa orang-orang suka melanggar trafic light? Saya sadar banget, kalau setiap orang pasti punya urusan sendiri-sendiri. Tapi masalahnya adalah bahwa yang punya urusankan bukan dia aja. lalu mengapa harus menjadi orang yang egois?

Mengapa kita tidak berusaha bersabar dengan peraturan yang dibuat untuk keselamatan kita juga?

Terkadang aku merasa menjadi orang yang sangat bodoh karena memilih tetap diam tak bergerak ketika lampu merah sedang menyala, padahal dari arah lawan sudah tidak ada kendaraan. Saya punya pengalaman. Sewaktu saya pulang kantor, saya berhenti dibarisan paling depan sebuah traffic light. Dari arah lawan sebenarnya sudah tak ada kendaraan lagi. Tapi karena belum lampu hijauu, saya memilih tetap diam. Dari belakang, sebuah mobil engan tidak sabarnya terus menerus mengklakson saya. Bete bgt rasanya!

Rasanya tuh ya, pengen turun dari motor, trus bilang kepemilik mobil,”Pak, masih merah tuh! Ga liat apa?!”. Tapi, berhubung saya agak masih sedikit normal, saya cuma ngliatin tu mobil.”Sabar napa pak?!”. ujar saya dalam hati.

Bagi saya bukan masalah ada tidaknya kendaraan dari arah lawan, ataupun ada tidaknya polisi yang berjaga disekitar trafic light tersebut. tetapi ini masalah hati, masalah keselamatan dan yang paling penting ini adalah masalah keimanan?

Rasanya, mungkin terlalu mengada-ada ketika kita menghubungkan masalah trafic light dengan keimanan. Tapi menurut saya, jelas hal ini ada hubungannya. Pernahkah kita berpikir, bahwa adanya trafic light itu untuk melatih rasa muroqobatullah kita? Ketika kita melanggar lampu merah yang sedang menyala, padahal kita tidak mempunyai urusan yang sangat amat mendesak, pernahkan terbersit dalam hati kita sebuah perasaan bersalah? seharusnya, ketika iman itu telah melekat kuat dalam hati, perasaan selalu diawasi oleh Allah, hendaknya juga selalu ada. Dimanapun berada dan dalam kondisi apapun. Bukankah dalam kita beribadah pun ada sebuah prinsip yaitu ihsanullah? Beribadalah kamu seolah-olah kamu melihat Allah. Namun bilapun kamu tak melihat Allah, maka percayalah bahwa Allah melihat kamu. Trus mengapa kita tak menerapkan prinsip itu untuk menghadapi sebuah peraturan yang jelas-jelas itu dibuat demi kebaikan bersama?

So, pliz, tolong berhentilah melanggar trafic light dan berbagai macam peraturan lalu lintas lainnya. Belajarlah untuk menerapkan muroqobatullah kita dimanapun berada. Ayo, mulailah melakukan sesuatu dari hal yang kecil, karena dari hal kecil itulah sebuah hal besar akan terwujud dan menjadi lebih berarti!

Bersemangat!

Merdeka!^_^

Jamur Musiman Ramadhan

Bau-bau Ramadhan semakin terasa. Kalo saya paling seneng liat iklan buka puasa yang akhir-akhir ini semakin marak. Yah bisa dibilang, ni cara televisi buat ikut andil dalam menyemarakkan Ramadhan.

Tapi, ada yang buat saya ngrasa agak-agak ga nyaman. Selain diramaikan oleh iklan buka puasa, tipi juga diramaikan dengan iklan-iklan sinetron yang akan tayang selama bulan Ramadhan. apa coba yang bikin bete? Ya sinetron-sinetron itu tadi!

Setiap bulan Ramadhan, pasti stasiun tipi berlomba-lomba untuk buat tayangan yang “menyenangkan” hati pemirsanya. dan yang bikin males, mereka emang cuma mengandalakan sisi hiburan semata, tanpa berniat untuk sedikit saja memberi muatan hikmah dari setiap tayangannya.

Sinetron-sinetron Ramadhan, sebagian besar bahkan hampir seluruhnya, bisa dibilang, ga ada bedanya dengan sinetron-sinetron yang tayang dihari-hari biasa. Yang bikin beda cuma nama yang diislam-islamkan, pemain yang disoleh-solehakan, dsb. Saya tak hendak bersuuzon atau ga menghargai hasil karya mereka. namun ini bener-bener lahir dari protes hati kecil saya yang sudah bosan melihat televisi yang tayangannya, itu-itu aja!

oke, saya akui, produser pasti ga mau rugi. mereka ga sepenuhnya salah karena permintaan masyarakat pun juga seperti itu. Tapi, emang ga ada celah untuk sedikit saja melakukan perubahan?kurang cukupkah bukti yang selama ini tampak? Bagaimana kesuksesan Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat, Para Pencari Tuhan dan bahkan yang paling fenomenal adalah film Ayat-Ayat Cinta, yang kesemuanya itu laris manis dipasaran. Padahal semua sinetron dan film itu bukan dilatarbelakangi oleh kisah roman picisan dan tokoh yang disoleh-solehkan! Sinetron tersebut berhasil memikat pemirsanya lewat sentuhan hikmah yang diberikan tanpa harus terasa seperti digurui. Bahkan, Pak presiden yang terhormat pun, juga menjadi penggemar setia dari sinetron tersebut! (Salut buat Bang Dedi Miswar atas karya-karyanya. Semoga Allah memudahkan langkah untuk selalu memberikan yang terbaik bagi umat)

Duuuuuuhhhhhh!!!Gerem banget rasanya, saat ini saya hanya bisa protes. Saya pengen berbuat sesuatu! Tapi, bukankah selemah-lemahnya iman, ketika melihat suatu kemungkaran, minimal hatinya berontak?I know, i have to do something someday! Makanya saya pengen banget jadi orang kaya, saya pengen banget jadi produser, saya pengen banget punya PH sehingga saya bisa lebih leluasa untuk berbuat sesuatu!Amin!

Tolong diaminkan ya..Semoga dengan banyak yang mengaminkan, keinginan saya bisa terwuju. dan ini ga hanya berahir pada sebuah keinginan saja!

Ada yang mo bergabung dengan saya?

THAT’S WHY I’M VERY PROUD BE YOUR DAUGHTER!

Dalam perjalanan pulang menuju kampung halamanku yang terakhir, I had so many experiences. Pengalaman-pengalaman yang aku temukan sepanjang penantianku sewaktu transit di Soekarno Hatta, hingga setibanya aku di kampong halaman tercinta. Dan semua itu membuatku menyimpulkan satu hal yang sepanjang hidupku mungkin lupa untuk ku syukuri yaitu betapa beruntungnya aku memiliki orang tuaku saat ini.

Teringat kembali pada memori-memori masa kecil yang masih terekam jelas diingatanku dan akan tetap kupegang sampai kapan pun. Aku bukanlah berasal dari keluarga yang kaya, tetapi bukan juga berasal dari keluarga yang kekurangan. Alhamdulillah semuanya selalu saja ada. Allah memberikan rezeki yang lebih dari cukup kepada keluargaku. Itulah mengapa dari kecil kami tak pernah bergaya hidup mewah, walaupun tak dipungkiri ayahku adalah seorang yang berselera tinggi. Beliau tak pernah membelikan barang-barang murahan untuk kami. Mulai dari baju hingga alat sekolah semuanya bermerk. Walaupun beliau tak pernah menjelaskan hal itu pada kami, agar tak mengajarkan kesombongan pada kami. Baru, setelah agak besar kami semua menyadarinya.

Kebanggaanku yang lain adalah orang tuaku yang mengajari kami untuk menjaga hubungan dengan lawan jenis secara hati-hati. Kami maklum. Kami semua adalah putri sehingga papa-mama hanya ingin melindungi kami. Dan hal lain yang sangat amat terekam jelas dalam ingatanku adalah papa akan sangat marah kalau kami menyanyikan lagu yang seharusnya tidak dinyanyikan oleh anak seusia kami pada saat itu.  Ya, seperti lagu roman-roman picisan yang memang targetnya adalah orang dewasa. Beliau akan menegur bila kami menyanyikan lagu-lagu percintaan yang ga jelas. Alhasil, ketika masih kecil hanya lagu anak-anak yang kami pahami. Apakah aku menyesal? Oh tentu saja tidak.

Saat ini, aku merasa miris melihat anak-anak zaman sekarang. Ketika sesampainya aku di pekanbaru kemarin, aku langsung ditodong kekondangan akekahan anak sepupu. Di sana ada hiburan organ tunggal dan yang bernyanyi adalah anak-anak kecil yang kurasa baligh aja belum. Dan yang membuatku bersedih adalah lagu yang mereka nyanyikan! Oh God, bayangkan aja, mereka bernyanyi lagu Ingat Kamunya Maia, Ok!nya T2, hingga Jablainya Titi Kamal. Astagfirullah… mereka bernyanyi dengan sangat gembira dan begitu menikmati. Dan yang mungkin membuat mereka semakin bersemangat adalah dukungan orang tua dan saudara-saudara mereka yang terus menerus berteriak bangga terhadap penampilan mereka. Can you imagine that? Bayangkan! Mau jadi apa generasi ini ketika dari kecil sudah diajarkan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan oleh anak seusia mereka? Membayangkannya saja aku ga berani. Apakah pendidikan orang tua saat ini sudah sangat parah hingga melupakan penanaman moral dari hal yang kecil? Entahlah apa begitu sulit mendidik anak di zaman yang serba teknologi ini.

Oke, mungkin mereka belum paham dengan apa yang mereka nyanyikan, tetapi mengapa hal itu dibiarkan saja? Mengapa mereka dibiarkan melakukan sesuatu yang tak mereka pahami? Apakah lagu anak-anak sudah tidak ada hingga mereka harus dicekoki dengan lagu orang dewasa? Mungkin jawabannya adalah iya. Seribu satu macam alasan bisa saja dibuat untuk defence our self, tetapi permasalahannya adalah apa jadinya putra-putri anda nanti?

Lagu tak hanya sekedar kata-kata indah yang bernada yang dilantunkan oleh lisan. Lebih dari itu, sebuah lagu harus mampu menjadi suatu yang bermanfaat bagi yang bernyanyi dan yang mendengarkannya. Bagaimana sebuah lagu menjadi sebuah deretan kata yang membuat hati anda tidak terbuai pada sesuatu yang tidak sepantasnya anda pikirkan. Itu yang hendaknya ditanamkan pada setiap orang termasuk pada putra dan putri anda. Dan itu yang mungkin hendak diajarkan oleh orang tuaku. Ya Allah…betapa beruntungnya aku.

Dan aku pun merasa semakin bertambah beruntung tak kala mengingat bagaimana nilai-nilai keagamaan telah tertanam kuat sewaktu aku masih kecil. Mulai dari papa yang getol banget menyuruh kami sholat dan mengaji. Mulai dari diikutkan dengan pesantren yang ada di dekat rumah, memanggil guru ngaji ke rumah, hingga pada akhirnya papa yang mengajari kami. Betapa menyenangkan bukan? Pokoknya setiap magrib harus ngaji! Itu yang menjadi kebiasaan bagi kami semua. Hingga kebiasan itu tetap kami lakukan sampai dewasa. Ya Robb…skali lagi, betapa beruntungnya aku…

Hal lainnya adalah betapa kemandirian telah tertanam pada kami. Sejak kelas 1 SMP, kami sudah hidup terpisah dari orang tua. Keinginan papa yang besar untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putri-putrinya membuat papa merelakan kami untuk bersekolah di kota yang berbeda. Pilihan berat memang buat kami semua tapi keinginan untuk menjadi lebih baik menjadikan segala kendala itu mampu kami lewati bersama. Yap, perlahan namun pasti, anak-anak papa-mama satu per satu di transfer ke Pekanbaru, yang berjarak 12 jam dari kota kecil kami Sibolga.

Awalnya, oh tentu saja berat. Setiap malam menangis minta disuapin mama, nelpon mama, dsb. Tapi ternyata, inilah hasilnya. Alhamdulillah, kami semua menjadi anak-anak yang tangguh yang ga terlalu dimanja dengan fasilitas, yang ga bergantung pada mobil antar jemput bila berangkat sekolah, yang bertemankan bus kota atau angkot untuk berjuang ke tempat kami menimba ilmu. Yah, benih yang di tanam semenjak kecil itu, kini tengah menuai hasilnya. Oh God…how lucky I’m…

Dulu, pernah hati keCil ini merasa iri melihat teman-teman masa kecil yang bila kita datang pada acara ulang tahun teman, selalu ditemani papa atau mamanya. Kami? Jangan harap! Bukannya papa-mama ga mau nemenin, tapi aku yakin, skali lagi mereka hanya ingin mengajarkan kami untuk mandiri, ga manja! Itu aja. Menyenangkan bukan?

Demokratis, itulah papa-mamaku. Mereka berdua tak pernah memaksakan kehendaknya pada anak-anaknya. Beliau mengajarkan kami untuk memilih sendiri jalan hidup kami, tetapi tetap dengan bimbingan mereka. Buktinya dari kami bertiga tak ada satupun yang jurusan kuliahnya sama. Bahkan cenderung ga nyambung satu sama lain. Karena apa? Karena papa-mama hanya ingin kami menikmati apa yang kami inginkan dan bertanggung jawab atas segala pilihan itu.

Maka memilih kuliah di luar pulau Sumatra pun kami jalankan. Sekali lagi. Tentu saja untuk mencari tempat belajar yang lebih baik. Tak bisa dipungkiri, pulau Jawa memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan tempat menimba ilmu. Kelengkapan fasilitas dan dekatnya dengan pusat pemerintahan Indonesia, menjadikan pulau Jawa menjadi selalu selangkah lebih maju dari pulau lainnya. Dan jadilah, kakakku yang di Jogja, setahun kemudian aku yang menyusul berjuang di Semarang dan yang terakhir, adik bungsuku yang tak mau ketinggalan untuk mengikuti jejak kakak-kakaknya ke Jawa yaitu Semarang.

 Aku jadi teringat, seorang sahabatku yang kebetulan seorang cowok, pernah berkata, “Kalo aku jadi bapakmu, ga akan aku ijinkan 3 anak cewekku sekolah di Jawa”. Aku hanya bisa tersenyum, karena akupun tak punya jawaban, mengapa kami bertiga bisa diizinkan merantau ke pulau sebrang semua. Sesampainya di Pekanbaru, aku pun bertanya pada papaku, mengapa kami bertiga diizinkan belajar jauh-jauh. Apa papa ga khawatir? Papa hanya menjawab, papakan percaya pada kalian. Papa udah menanamkan agama dari kalian sejak kecil, jadi itulah pegangan kalian. Sebuah jawaban yang sangat membuatku makin harus menjaga kuat semua kepercayaan itu. Subhanallah…aku sungguh beruntung.

Dari dulu, kami bukanlah keluarga romantis. Yang selalu mengucapakan, Ratna sayang mama-papa, atau papa sayang kalian. Tetapi hati kami selalu tau, bahwa kami sangat menyayangi satu sama lain. Kami juga bukan keluarga yang suka curhat satu sama lain. Kami lebih suka menyimpannya sendiri atau membaginya dengan teman dekat. Bagiku, itu ga masalah. Itu hanya masalah kenyamanan dalam berhubungan. Namun yang pasti kami adalah keluarga yang memiliki kesukaan untuk memberi surprise. Mulai dari papa, mama, mbak ayu, aku dan wiwin menyukai hal-hal yang berbau kejutan. Entahlah, kami hanya menyenangi ekspresi orang-orang yang kami sayangi, berbahagia dengan surprise kami.

Kalaulah ingin menceritakan bagaimana papa-mamaku mendidik kami, pasti ga akan pernah ada habisnya, karena memorikupun takkan mampu mengingatnya saat ini juga. Kalaulah ingin menceritakan betapa beruntungnya aku, pasti ga akan pernah usai, karena kenikmatan yang Allah berikan padaku takkan mampu terwakilkan dalam kata-kata karena begitu banyaknya. Namun yang pasti, aku sangat bangga pada orang tuaku. Tempatkan dirimu pada posisiku, tentu kamu pun akan merasakan nilai-nilai kebanggaan yang ada pada hatiku saat ini. Aku selalu ingin mengatakan bahwa aku sangat bangga pada kalian mama-papaku tercinta. Aku merasa Allah telah begitu sayang padaku karena telah menitipkan aku pada kalian. Mungkin banyak saudara-saudaraku diluar sana yang tak mampu merasakan kebahagiaan dan kebanggaan yang aku rasakan. Semoga aku mampu mengambil nilai-nilai positif yang kalian ajarkan padaku, dan ku terapkan pada anak-anakku nantinya. Amin.

Saudaraku, kalaulah saat ini kalian tengah emosi dengan kedua orang tua kalian, lakukan hal yang sama denganku saat ini. Buatlah daftar kebanggan kalian yang telah ditanamkan orang tua kalian semenjak kecil. Seburuk apapun pemikiran kalian terhadap orang tua kalian, buanglah itu semua. Karena selama beliau tidak menyekutukan Allah, mereka menjadi tanggung jawab kalian untuk menikmati hidayah yang ada di hati kalian saat ini. Dan itupun tengah kulakukan kepada keluargaku.

Hal yang paling membahagiakan seorang anak adalah apabila melihat orang yang dicintainya bisa merasakan kelezatan iman yang ada dihatinya sekarang bersama-sama. Sungguh, kalian akan sangat merugi ketika kalian udah menyerah sebelum berjuang, menganggap orang tua tak perlu didakwahi, karena keras ataupuk kolot. Justru, orang tua kalianlah yang seharusnya menjadi orang terdekat yang paling bisa merasakan dampak hidayah itu. Tak inginkah kalian menikmati surga bersama-sama dengan mereka?

Kalau aku….ingiiiiiiiin sekali….

Ya Robbi, mudahkanlah jalanku untuk membawa orang-orang yang kubanggakan ini merasakan segala kelezatan iman yang ada di hatiku saat ini. Amin….